Ancaman Siber yang Terus Berkembang
Bank digital yang mengandalkan layanan daring sebagai tulang punggung bisnisnya menghadapi risiko serangan siber yang terus meningkat. Direktur Utama PT Bank Amar Indonesia Tbk, Vishal Tulsian, mengibaratkan keamanan siber seperti permainan “Tom and Jerry” yang tak pernah berhenti. “Keamanan siber seperti kucing dan tikus. Tidak pernah ada perusahaan, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia, yang bisa merasa sepenuhnya aman,” ujarnya .
Survei Ipsos Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa keamanan kini menggeser promo sebagai daya tarik utama bank digital. Pada kategori bank digital dengan tabungan dan deposito paling aman serta tepercaya, SeaBank memimpin dengan skor 69%, diikuti Bank Jago (56%), SuperBank (53%), NeoBank (47%), dan Allo Bank (45%) .
Strategi Pertahanan Siber yang Komprehensif
Amar Bank menerapkan strategi pertahanan siber yang bertumpu pada tiga pilar utama: teknologi, proses, dan sumber daya manusia. Bank ini secara rutin memperbarui perangkat keamanan, menerapkan proses yang mengacu pada praktik terbaik global, serta menggelar pelatihan berkala bagi karyawan dengan pengawasan sistem selama 24 jam .
“Meski Anda punya alat terbaik, tapi kalau orang-orangnya tidak terlatih, itu tetap menjadi titik lemah,” tegas Vishal. Ia menambahkan bahwa investasi keamanan siber bukan dipandang sebagai biaya, melainkan bagian dari manajemen risiko .
Tekanan Likuiditas yang Mengancam Margin
Selain keamanan siber, bank digital juga menghadapi tantangan likuiditas yang tidak kalah serius. OJK mencatat rasio pendanaan terhadap kredit (LDR) industri perbankan naik menjadi 88,32% per Juni 2026 dari posisi 86,63% pada bulan sebelumnya . Beberapa bank digital bahkan mencatatkan LDR yang sangat tinggi, seperti Amar Bank yang mencapai 135,62% pada Februari 2026, diikuti Bank Jago di level 99%, dan Krom Bank di 96,56% .
LDR yang tinggi menunjukkan bahwa bank digital menyalurkan kredit lebih agresif dibandingkan kemampuan mereka menghimpun dana. Hal ini menciptakan risiko likuiditas yang signifikan, terutama jika terjadi gejolak pasar atau penarikan dana besar-besaran.
Strategi Menjaga Likuiditas
Untuk mengatasi tantangan likuiditas, bank digital menggenjot penghimpunan dana murah. SeaBank, misalnya, berhasil menjaga porsi CASA di level 69,6% dari total DPK, yang menunjukkan tingginya frekuensi penggunaan aplikasi untuk kebutuhan harian seperti transfer, pembayaran QRIS, dan tagihan rutin .
Bank Neo Commerce dan bank digital lainnya juga fokus pada peningkatan kualitas aset dan efisiensi operasional untuk menjaga likuiditas yang sehat. Fokus utama mereka adalah menjaga momentum pertumbuhan berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian .
Risiko Kualitas Kredit yang Perlu Diwaspadai
Ekspansi kredit yang agresif juga membawa risiko kualitas kredit. Meski bank digital seperti SeaBank berhasil menjaga NPL Gross di level 1,65%, bank digital lain mungkin menghadapi tantangan serupa dengan bank konvensional dalam menjaga kualitas aset . Risiko kualitas kredit akibat ekspansi agresif sebelumnya, ditambah cost of fund yang tinggi untuk menarik dana masyarakat, menekan margin profitabilitas bank digital .
Dengan kombinasi tantangan keamanan siber, likuiditas, dan kualitas kredit, bank digital perlu membangun fondasi yang kokoh untuk memastikan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Tanpa itu, pertumbuhan pengguna yang pesat tidak akan berarti apa-apa.
