Dua Negara, Satu Poros Nikel
Pada 8 Mei 2026, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) menandatangani MoU Strategic Nickel Industry Development Cooperation di Cebu. Kerja sama ini membentuk Indonesia-Philippines Nickel Corridor, platform yang menghubungkan smelter dan hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina.
Data USGS 2026 menunjukkan kedua negara menguasai 73,6 persen produksi nikel dunia pada 2025. Indonesia sendiri memegang 44,5 persen cadangan nikel global. Koridor ini bukan sekadar perdagangan bijih, melainkan upaya mengunci posisi tawar dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.
Ketahanan Bahan Baku di Sisi Hilir
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan koridor ini memberikan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) bagi industri baterai dan baja tahan karat Indonesia. Smelter Indonesia membutuhkan campuran bijih dengan rasio silikon terhadap magnesium tertentu yang dapat dipenuhi dari bijih Filipina melalui proses blending.
Nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai USD9,73 miliar pada 2025. Proyeksi investasi hingga USD47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030. Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah, tetapi terintegrasi ke rantai nilai regional yang lebih tinggi.
Bayangan Ketergantungan Teknologi
Di balik optimisme koridor, ada persoalan struktur. Perusahaan Tiongkok menguasai sekitar 75 persen kapasitas pemurnian nikel Indonesia pada 2023, dengan Tsingshan dan Jiangsu Delong saja memegang lebih dari 70 persen. Artinya, Indonesia memiliki bijih dan smelter, tetapi kendali atas rantai nilai di sekitar nikel tidak sepenuhnya berada di tangan nasional.
Pemerintah juga mempertimbangkan moratorium smelter nikel baru untuk mengatasi kelebihan pasokan global sekaligus melindungi industri dalam negeri. Pada 2026, kuota produksi bijih nikel dipangkas menjadi sekitar 260–270 juta ton, jauh di bawah level tahun sebelumnya, dan langkah ini menuai keberatan dari perusahaan Tiongkok.
Mineral Kritis sebagai Instrumen Diplomasi
Nikel telah berubah menjadi salah satu kartu tawar industri paling penting di dunia. Koridor dengan Filipina memperkuat posisi itu, tetapi ketahanan rantai pasok mineral kritis pada akhirnya bergantung pada kemampuan mendiversifikasi mitra teknologi, bukan hanya mitra pasokan bijih.
