Gelombang efisiensi yang melanda startup Indonesia pada 2025 dan berlanjut hingga 2026 bukanlah tanda kekalahan. Sebaliknya, ini adalah respons rasional terhadap tuntutan pasar yang kini menempatkan profitabilitas di atas segalanya. Cara lama—merekrut sebanyak mungkin orang untuk mengejar pertumbuhan—telah ditinggalkan.
Realitas Baru di Dunia Operasional
Managing Director Tech in Asia Indonesia, Novrizal Pratama, mengungkapkan bahwa era uang murah telah berakhir. Jumlah putaran pendanaan di Indonesia turun drastis dari sekitar 385 putaran menjadi hanya 69 putaran pada 2025. Konsekuensinya, startup harus bertahan dengan sumber daya yang lebih terbatas. Efisiensi menjadi kata kunci, dan PHK massal, meski menyakitkan, menjadi salah satu opsi yang paling sering diambil untuk memangkas biaya operasional.
AI sebagai Katalis Efisiensi
Di tengah keterbatasan sumber daya manusia, teknologi kecerdasan artifisial (AI) muncul sebagai penyelamat. Novrizal bahkan memperkirakan bahwa pada 2026, sekitar 80 persen aplikasi perusahaan akan menyertakan agen AI bawaan. “Tidak menggunakan AI hari ini seperti menghitung inventaris dengan kertas di era Excel,” ujarnya.
AI memungkinkan startup untuk beroperasi dengan tim yang lebih kecil namun tetap produktif. Otomatisasi dalam layanan pelanggan, analisis data, pengembangan perangkat lunak, dan proses back-office mengurangi beban biaya sekaligus meningkatkan akurasi dan kecepatan. Inilah yang disebut sebagai lean team with big impact—tim kecil yang mampu memberikan dampak besar.
Menyeimbangkan Efisiensi dan Inovasi
Namun, efisiensi brutal tanpa arah yang jelas juga berisiko. Startup perlu memastikan bahwa pemangkasan biaya tidak mengorbankan kualitas produk atau pengalaman pengguna. Oleh karena itu, adopsi AI harus strategis, bukan sekadar ikut-ikutan. Fokusnya harus pada area yang benar-benar memberikan pengembalian investasi tertinggi dan mendukung tercapainya profitabilitas.
Era profitabilitas 2026 menuntut startup untuk menjadi organisasi yang lincah, datar, dan sangat efisien. Mereka yang mampu menggabungkan disiplin biaya dengan pemanfaatan teknologi secara cerdas akan menjadi pemenang di lanskap yang semakin kompetitif ini.
