Inovasi fintech berkembang lebih cepat dibandingkan banyak model regulasi konvensional. Produk baru dapat diluncurkan melalui aplikasi dan digunakan oleh jutaan orang tanpa pembangunan jaringan kantor fisik.
Kecepatan ini memberi manfaat besar, tetapi juga menciptakan tantangan pengawasan. Ketika terjadi kesalahan desain produk, kebocoran data, atau praktik penagihan yang tidak wajar, dampaknya dapat menyebar dalam waktu singkat.
Karena itu, regulasi fintech bukan dimaksudkan untuk menghentikan inovasi. Aturan diperlukan agar perkembangan teknologi tidak mengorbankan konsumen dan stabilitas sistem keuangan.
Perlindungan Konsumen Tidak Cukup Mengandalkan Persetujuan Digital
Banyak aplikasi meminta pengguna menyetujui syarat dan ketentuan yang panjang. Secara hukum, pengguna dianggap memberikan persetujuan. Namun, dalam praktiknya, hanya sedikit konsumen yang membaca seluruh dokumen tersebut.
Persetujuan digital menjadi bermasalah ketika informasi penting mengenai bunga, biaya, denda, akses data, atau mekanisme penagihan tidak disajikan secara jelas.
Otoritas Jasa Keuangan telah menerbitkan POJK Nomor 22 Tahun 2023 mengenai Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan. Ringkasan dan dokumen regulasinya dapat diakses melalui halaman regulasi OJK.
Aturan tersebut menegaskan pentingnya transparansi, perlakuan adil, perlindungan aset dan data, penanganan pengaduan, serta penyelesaian sengketa.
Penggunaan Data Membutuhkan Batas yang Tegas
Fintech menggunakan data untuk memverifikasi identitas, mencegah penipuan, memproses transaksi, dan menilai kelayakan kredit. Namun, semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin besar risiko penyalahgunaan.
Aplikasi keuangan tidak semestinya meminta akses yang tidak relevan dengan layanan. Data konsumen juga tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain tanpa dasar dan persetujuan yang sah.
Kebocoran data finansial mempunyai dampak serius karena dapat digunakan untuk pengambilalihan akun, pemalsuan identitas, dan penipuan lanjutan. Pengawasan keamanan siber karena itu perlu diperlakukan sebagai bagian dari pengawasan keuangan.
Risiko Tidak Berhenti pada Satu Perusahaan
Perusahaan fintech terhubung dengan bank, pusat data, penyedia tanda tangan elektronik, perusahaan telekomunikasi, lembaga pemeringkat, dan berbagai mitra lainnya.
Hubungan tersebut menghasilkan efisiensi, tetapi juga menciptakan risiko pihak ketiga. Gangguan pada penyedia teknologi dapat membuat banyak layanan keuangan berhenti secara bersamaan.
Regulator perlu memahami hubungan antarpelaku, bukan hanya menilai kesehatan masing-masing perusahaan secara terpisah. Peta keterhubungan ini penting untuk mengetahui bagaimana gangguan dapat menyebar ke bagian lain dari sistem keuangan.
Regulatory Sandbox untuk Menguji Inovasi
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengawasan teknologi keuangan adalah regulatory sandbox. Melalui mekanisme ini, model bisnis baru dapat diuji dalam ruang terbatas sebelum dipasarkan secara luas.
Pengujian membantu regulator memahami manfaat, kelemahan, dan risiko produk. Perusahaan juga memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tata kelola sebelum melayani konsumen dalam skala besar.
Meski demikian, sandbox tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa suatu produk bebas risiko. Konsumen tetap perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai status dan karakteristik layanan.
Menemukan Keseimbangan antara Aturan dan Inovasi
Regulasi yang terlalu longgar dapat membuka ruang bagi penyalahgunaan. Sebaliknya, aturan yang terlalu kaku dapat menghambat perusahaan baru dan membuat inovasi hanya dikuasai institusi bermodal besar.
Pendekatan berbasis risiko menjadi penting. Produk dengan dampak kecil dapat memperoleh proses yang lebih sederhana, sementara layanan yang mengelola dana masyarakat atau data sensitif perlu diawasi lebih ketat.
Industri fintech Indonesia membutuhkan kepastian hukum, standar keamanan, modal yang memadai, serta tanggung jawab terhadap konsumen. Dalam jangka panjang, kepercayaan publik justru menjadi modal terpenting bagi perusahaan teknologi keuangan.
Tanpa regulasi yang kredibel, pertumbuhan pengguna dapat berhenti ketika terjadi kasus besar. Dengan pengawasan yang proporsional, fintech dapat berkembang sebagai bagian yang sehat dari sistem keuangan nasional.
