Sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia telah melewati fase “bubble burst” pada tahun 2022-2023. Kini, di tahun 2026, investor jauh lebih dewasa dan skeptis. Pertanyaan utama bukan lagi “berapa besar pertumbuhan pengguna?” melainkan “kapan laba bersih positif dan berkelanjutan?”. Analisis saham teknologi di 2026 adalah analisis tentang eksekusi manajemen dalam memangkas biaya, menemukan sumber pendapatan baru, dan memenangkan persaingan tanpa membakar uang.
Era Profitabilitas Emiten Teknologi
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menjadi studi kasus terbaik. Setelah bertahun-tahun merugi, GOTO berhasil membukukan EBITDA positif untuk pertama kalinya di akhir 2024. Momentum ini berlanjut ke 2025 dan diproyeksikan menguat di 2026. Strategi GOTO yang keluar dari bisnis e-commerce fisik (Tokopedia) dan fokus pada layanan keuangan digital (GoTo Financial) serta on-demand services dinilai pasar sebagai langkah tepat.
Sementara itu, BUKA memiliki strategi unik dengan pivot ke pasar offline melalui Mitra Bukalapak. Menurut data internal perusahaan yang dirilis dalam laporan keuangan publik kuartal empat 2025 (diakses via situs resmi investor relations mereka), kontribusi pendapatan dari segmen Mitra telah melampaui pendapatan marketplace tradisional. Ini adalah bukti bahwa inovasi model bisnis menjadi kunci bertahan hidup.
Peluang di Luar Big Names
Nama yang paling sering terlewat justru PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Sebagai induk dari SCTV dan Vidio, EMTK memegang kendali atas konten. Di era di mana konten adalah raja, perpustakaan konten EMTK menjadi aset berharga. Selain itu, anak usahanya di bidang kesehatan digital dan infrastruktur data memberikan opsi pertumbuhan yang tidak dimiliki GOTO atau BUKA. Valuasi EMTK di awal 2026 masih terbilang lebih rasional dibandingkan sektor teknologi global.
Faktor Pemicu Pergerakan Harga
Katalis terbesar untuk saham teknologi di 2026 adalah potensi penurunan suku bunga. Saham teknologi sensitif terhadap discounted cash flow; ketika suku bunga turun, nilai sekarang dari pendapatan masa depan mereka naik. Selain itu, potensi aksi korporasi seperti merger atau akuisisi antar platform digital untuk mengurangi perang diskon akan disambut positif pasar.
Investor harus memperhatikan metrik Contribution Margin dan Core Earnings. Jangan tertipu oleh pendapatan kotor yang besar jika biaya variabel masih membengkak. Pilih emiten yang teknologinya memiliki switching cost tinggi. Pada 2026, era “bakar uang” telah berakhir; hanya pemain efisien yang akan bertahan di bursa.
